u3-Petualangan-di-Atas-Awan
PETUALANGAN SERU DI ATAS AWAN

PETUALANGAN SERU DI ATAS AWAN

Oleh: Zhafira Putri Arina

 

                “Besuk kamu jangan masuk sekolah ya?”, kata Ibu tiba-tiba.

                “Lhoo, kenapa Bu?”, jawabku penuh tanda tanya.

                “Kita ke rumah nenek selama tiga hari”, jawab Ibu

                “Hah, benar Bu?”, ucapku sedikit nggak percaya.

                “Suka kamu nggak sekolah?”, sahut Ibu.

 

                Malam harinya ibuku segera mempersiapkan barang-barang kita yang  mau dibawa ke rumah nenek. Ibu menyiapkannya dibantu sama bude kakaknya Ayah.

 

Keesokan harinya Ibu membangunkan aku dan menyuruhku untuk segara mandi dan bersiap-siap. Aku segera memakai baju dan menyiapkan barang-barangku yang mau kubawa.  Kita tidak sarapan di rumah, tetapi membawa bekal.

 

Tak lama kemudian taksinya datang. Pak sopir segera memasukkan barang-barang  ke bagasi taksi. Setelah semua barang masuk, kami pun berpamitan kepada Bude dan Ayah.

 

Selama di perjalanan menuju bandara, aku melihat pemandangan yang indah dan awan putih yang menghiasi langit biru. Di saat asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba adikku menangis. Aku berusaha menenangkannya, dan akhirnya Adik pun berhenti menagis.

 

                Setelah sampai di bandara, aku segera turun mengambil stroller untuk membawa koper-koper kami. Pak sopir meletakkan semua barang-barang kami ke stoller. Aku dan Ibu segera mencari tempat duduk untuk menunggu pesawat.

 

                “Ibu, pesawatnya besar sekali ya! Nanti aku bisa melihat awan dari jendela, kan?”, tanya adikku sambil tersenyum lebar.

                “Iya, Nak. Kamu akan melihat pemandangan yang indah dari atas sana”, jawab Ibu sambil mengusap kepala adik.

 

                Setelah menunggu beberapa saat, pesawat pun tiba dan kami langsung naik ke dalam pesawat  dan diarahkan tempat duduk kita oleh pramugarinya. Adikku duduk di dekat jendela.

 

Pramugari memberitahu bahwa pesawat siap lepas landas. Kita disuruh mengenakan sabuk pengaman dan berhenti memakai HP. Ketika pesawat lepas landas, perutku terasa geli seperti sedang naik ayunan. Aku tak berhenti berdoa agar diberi keselamatan dan kelancaran.

                “Wah, aku bisa melihat rumah-rumah jadi kecil sekali!”, seru adikku senang.

Pesawat meluncur mulus di langit biru. Adikku menikmati makanan ringan yang dibagikan pramugari. Tiba-tiba, pesawat terasa berguncang keras.

“Ibu, kenapa pesawatnya goyang?”, tanya adikku dengan wajah cemas.

Ibu tersenyum menenangkan. “Jangan khawatir, Nak. Itu hanya turbulensi, seperti jalan berlubang di udara.”

Tak lama kemudian, suara kapten terdengar di pengeras suara. “Para penumpang, harap tetap duduk dan kenakan sabuk pengaman. Kita sedang melewati cuaca buruk.”

 

Aku dan adikku menggenggam tangan ibu erat-erat. Di luar, awan hitam mulai terlihat. Petir menyambar jauh di kejauhan. Pesawat berguncang lagi, tapi pramugari tetap tersenyum dan memastikan semua penumpang aman.

 

Setelah beberapa menit yang mendebarkan, pesawat mulai terasa tenang kembali. Kapten mengumumkan bahwa mereka sudah melewati cuaca buruk. Kami menarik napas lega.

 

Tak lama kemudian, ketika pesawat mulai turun ada sesuatu yang membuat penumpang panik lagi, tetapi pramugarinya tetap menyuruh penumpangnya tenang. Saat mendarat ada suara yang lumayan keras “bruk!”. Semua penumpang heboh dan panik sambil berteriak membaca doa-doa. Tetapi akhirnya pesawat pun  mendarat dengan selamat di bandara. Semua penumpang bersorak gembira.

Ibu tersenyum bangga. “Kalian hebat,. Berani di tengah tantangan adalah hal yang luar biasa.”

 

Hari itu, kita belajar bahwa meskipun ada hal menegangkan, jika tetap tenang dan percaya, semuanya akan baik-baik saja. Silaturrahmi di rumah nenek pun dimulai dengan petualangan seru di atas awan! Berani dan tetap tenang serta berdoa saat menghadapi tantangan akan membuat kita lebih kuat.

 

Tamat

 

 

BIODATA PENULIS

Namaku Zhafira Putri Arina. Lahir di Pasuruan tanggal 19 Desember 2013 Cita-citaku ingin menjadi masinis. Hobiku renang dan masak Sekarang aku duduk di kelas 5D di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pasuruan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait