PESONA JOLOTUNDO
Oleh: Mardatilla Zahra Riyanti
Aku terbangun di pagi hari ketika burung dan serangga bernyanyi bersama-sama.
“Ayo… ayo… ayo… ”, suara adikku menggelegar seperti petir yang menyambar. Aku datang menghampiri adikku dan bertanya kepada Ibu.
“Ibu, kenapa Akmal berteriak?”
Ibuku menjawab, “Akmal ingin pergi ke kolam renang”.
Adikku memaksa dan terus merengek kepada Ibu. Namun, ibuku tidak mengijinkan. Kolam renang yang ada di desa Turen sedang di tutup karena masih terdampak banjir, yang disebabkan oleh hujan deras yang terus turun selama tiga hari yang lalu.
“Apakah tidak ada kolam renang yang lainnya, Bu? aku juga ingin berenang”.
Ibuku diam, terlihat berpikir untuk mencari kolam renang yang lainnya.
“Ibu tidak tahu, bagaimana jika kita mengunjungi kolam renang Jolotundo?”, kata Ibu.
Aku belum pernah mendengar nama Jolotundo, aku menjadi penasaran.
Kemudian aku bertanya kepala Ayah.
“Ayah, apa itu Jolotundo? apakah di sana kita bisa berenang?”
”Jolotundo adalah pemandian yang indah. Di sana terdapat tempat untuk berenang dan juga kolam ikan yang besar”, jawab Ayah.
Adikku tersenyum lebar saat mendengar ada ikan yang besar.
“Ayo Ayah, kita berangkat ayo ayo! Aku dan adikku sudah tidak sabar untuk mengunjungi Jolotundo!”, seruku gembira.
Kami berangkat bersama menggunakan sepeda motor. Melewati jalanan yang menanjak karena terletak di kaki Gunung Penanggungan Mojokerto Jawa Timur. Di kenal sebagai pemandian kuno yang dibangun pada abad kesepuluh Masehi. Pemandangannya sangat indah, terdapat banyak pohon yang tumbuh besar. Ayahku bilang, kita harus bisa menjaga dan melestarikan pohon-pohon itu, karena pohon memberikan oksigen segar untuk kita bernafas. Kita tidak boleh menebang pohon secara liar, seperti apa yang telah kita pelajari di sekolah.
Setelah sampai di pemandian Jolotundo, adikku berlari dengan riang gembira. Ia mulai mencoba untuk masuk ke kolam renang yang penuh dengan ikan. Kolam itu terlihat indah, karena bergandengan dengan bangunan batu yang membentuk seperti candi.
Aku dan adikku berlarian di dalam kolam untuk mengejar ikan-ikan. Selain itu, kami juga bermain air sampai baju kami basah. Aku dan adikku tertawa riang karena kami sangat bahagia. Tapi di balik itu, Ibu terlihat khawatir.
“Hati-hati terpeleset!”, Ibu berteriak kepadaku dan adikku. Kami tidak mendengarkan Ibu, kami terus bermain air dan berlari mengejar ikan.
“Aduh! Aakh …. Ibu!”, adikku menangis karena terpeleset dan kakinya terluka. Ayah bergegas datang menghampiri lalu menggendong adikku keluar dari kolam renang.
“Apakah terasa sakit?”, Ayah bertanya cemas.
“Iya”, adik mengangguk sambil meringis kesakitan.
Ayah mendesah pelan.
“Jika Ayah dan Ibu memberi nasehat, Akmal dan Marda harus mendengarkan”, kata Ayah.
“Ayah dan Ibu memberikan nasihat kepada kalian, jangan berlari-lari, karena jalannya licin”, tambah Ibu.
“Iya Bu”, sahut kami berdua.
Kita harus mendengarkan nasehat orang tua karena orang tua kita tidak ingin kita terluka. Mereka tidak membenci kita, namun malah sebaliknya. Mereka sangat sayang pada kita. Ayah dan Ibu memberi nasihat agar kita selamat. Setelah itu kami kembali berenang bersama ikan. Kami tidak lari-lari lagi dan lebih berhati-hati agar tidak terpeleset lagi.
Kami sangat senang bisa berenang bersama ikan di pemandian Jolotundo. Pemandian tersebut memiliki pemandangan yang indah. Maka dari itu, kita harus menjaga agar tidak rusak dan tidak dilupakan. Di pemandian Jolotunto terdapat air mancur yang terletak di dekat bangunan seperti candi. Di sana baunya harum, karena ada banyak dupa di setiap sudut.
Selain itu, banyak orang yang mengambil air tersebut menggunakan galon untuk diminum. Air yang mengalir di pemandian itu dianggap istimewa oleh masyarakat setempat dan pengunjung, karena kualitas airnya yang tinggi, kepercayaan terhadap khasiat penyembuhan, serta asal usul yang suci.
Di dalam pemandian Jolotundo juga terdapat hewan-hewan lucu. Ada kupu-kupu yang cantik, tupai dan kera yang bergelantungan di atas pohon, serta berbagai jenis burung yang menghuni pepohonan di kawasan tersebut. Keberadaan hewan-hewan tersebut mencerminkan kondisi yang baik di sekitar pemandian Jolotundo.
Di pemandian Jolotundo juga terdapat kolam khusus yang diperuntukkan bagi perempuan. Kolam tersebut dilengkapi dengan pancuran yang mengalir dari mulut arca naga. Selain itu juga terdapat kolam khusus yang diperuntukkan bagi laki-laki. Kolam tersebut dilengkapi dengan pancuran air yang mengalir dari mulut arca garuda. Pembagian ini menunjukkan perhatian terhadap kenyamanan pengunjung.
Aku dan Ibu berjalan menuju kolam perempuan. Setelah sampai di kolam perempuan, aku langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Di dalam kolam, aku bertemu seorang nenek.
Beliau berkata, “Nak, nanti kamu mandi sambil memutari pancuran sampai tujuh kali ya”.
Aku mengangguk. Kemudian bergegas mengitari pancuran hingga putaran ketujuh pun selesai. Setelah itu aku langsung berganti baju. Kemudian kami berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor dan membeli pentol.
Tidak terasa matahari perlahan mulai tenggelam. Kami segera keluar dari area pemandian Jolotundo dan langsung pulang. Kami tiba di rumah sekitar pukul dua siang. Bergegas untuk shalat dhuhur dan langsung tidur.
Mengunjungi pemandian Jolotundo mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan menghormati warisan budaya. Kita harus merawat sumber daya alam seperti air yang jernih dan suci secara bijak. Selain itu, kita juga belajar menghargai tradisi dan sejarah yang telah diwariskan oleh leluhur, sebagai bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kepada generasi mendatang.
Tamat
BIODATA PENULIS
Namaku Mardatilla Zahra Riyanti. Lahir di Pasuruan tanggal 08 Juni 2013. Cita-citaku ingin menjadi dokter. Hobiku renang. Sekarang aku duduk di kelas 5D di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pasuruan.
