u3-Mimpi-Jadi-Nyata
MIMPI JADI NYATA

MIMPI JADI NYATA

Oleh: Aqila Maghfirah Ramadhani

 

Terdengar suara kokok ayam jantan bersahutan di pagi hari. Aku segera bangun dan bergegas mengambil air wudlu. Lalu berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Selesai shalat, aku langsung pulang karena aku mau mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Sebelum mandi, aku menyiapkan buku dan alat tulis terlebih dulu.

Selesai mandi, aku segera ganti baju dan sarapan bersama Ayah dan adikku, Sementara Bunda membersihkan dapur sambil menyiapkan bekal adık. Selesai sarapan, aku, Adik, dan Ayah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, kami selalu berpamitan kepada Bunda.

Setiap berangkat sekolah, aku dan Ayah mengantarkan Adık terlebih dahulu. Setelah itu, Ayah mengantarku. Tidak lupa berpamitan dan mencium tangan kanan ayah. Setelah memasuki pintu gerbang sekolah, aku juga bersalaman dengan Bapak dan Ibu guru. Kemudian bertemu dengan teman-teman sambil bersanda gurau bersama menuju ruang kelas.

Sesampainya di ruang kelas, aku melihat keadaan kelas ramai sekali. Teman-teman berkerumun di meja Asha. Dengan cepat aku segera mendekat. Oh, ternyata teman-temanku tengah bermain hewan kecil, imut, dan menggemaskan. Hewan itu adalah hamster milik temanku Asha. Dia membawa hamster dua, yang satu berwarna hitam putih dan satunya lagi berwarna abu-abu kecoklatan.

Aku penasaran ingin bermain dengan hamster,. Kemudian aku meminta izin sama Asha.

“Asha, boleh kah aku memegang hamster kamu?”, tanyaku.

“Boleh kok, silahkan”, jawab Asha.

Saat aku pegang, tiba-tiba hamsternya menggigitku. Rasanya sakit sekali.

“Hati-hati, ada yang suka gigit!”, seru Asha.

“Mana hamster yang tidak suka gigit, Sha?”, tanyaku kepada Asha.

“Itu hamster yang berwarna hitam putih”, jawab Asha.

Di dalam hatiku, aku ingin punya hewan peliharaan yaitu hamster.

Bel berbunyi, pelajaran segera dimulai. Sebelum itu, kami berbaris dan membaca doa bersama. Pada waktu istirahat, aku menuju meja Asha lagi untuk bermain hamster. Aku tidak sabar untuk pulang, Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, waktunya pulang sekolah.

Saat turun dari tangga ruang kelas, ternyata yang menjemputku adalah tante. Sesampainya di rumah aku bergegas masuk rumah.

“Assalamualaikum”.

Ucapku sambil mencari Bunda ke kamarnya.

“Waalaikumussalam”, Bunda menjawab. Sambil kucium punggung tangannya.

Setiap hari sepulang dari sekolah aku selalu bercerita tentang kegiatanku di sekolah. Tapi hari ini aku tidak bercerita tentang pelajaran atau pun teman-temanku. Aku bercerita tentang temanku Asha yang membawa hamster. Aku ingin sekali punya hewan peliharaan. Gara-gara pinjam hamster punya Asha tadi, aku jadi ingin beli hamster.

“Bolehkan, Bun?”, pintaku.

“Sepertinya ayahmu tidak mengizinan. Dulu kamu pernah memelihara kelinci, tapi matı. Kasihan, karena kamu belum bisa merawat dengan baik”, jawab bunda dengan lembut.

“Ya sudah Bun, gak apa-apa kok nggak beli hamster”, kataku dengan perasaan sedih.

Malam pun tiba, aku masih mempunyai keinginan bisa mempunyai hewan peliharaan hamster. Pada saat mau tidur aku berdo’a.

“Ya Allah, aku ingin sekali mempunyai hamster. Semoga engkau kabulkan ya Allah. Amin”.

Kemudian aku tertidur.

Di dalam tidurku, aku merasa mempunyai dua hamster yang dibelikan Ayah. Aku asyik bermain dengan hamster. Aku beri dia nama Boni dan Belang. Setiap hari aku rajin memberinya makanan dan minuman. Tidak lupa juga selalu ku bersihkan kandangnya.

Akhirnya, aku pun bangun kesiangan. Hingga pukul 05.00 alarm keduaku berbunyi.

“Semoga jadi kenyataan”, gumanku.

Pukul 07.00 aku dihampiri Ayah.

“Ayo jalan-jalan ke tol HK, Mbak Aqila!”, seru Ayah.

“Ayo!”, jawabku dengan penuh semangat.

Di tol HK aku membeli aneka makanan seperti somay, bandung, cilok, cireng, dan lain-lain. Ketikaa perjalanan pulang, kami melewati toko hamster.

“Qila, ayo Ayah belikan hamster, kemarin sore Bunda bilang kalau Mbak Qila ingin sekali punya hewan peliharaan”, kata Ayah.

“Iya, Ayah. Aku senang sekali”, jawabku.

Di toko hamster ada bermacam-macam jenis hamster yang di jual. Ada campbell, syirian, dan lain sebagainya.

“Ayah belikan kamu dua hamster. Silahkan pilih mau yang mana”, kata Ayah.

“Iya, Ayah. Aku lihat-lihat dulu”, jawabku sambil mengelilingi toko tersebut.

Setelah berjalan-jalan melihat hamster, aku memilih hamster yang berjenis syirian. Warnanya sama seperti punya Asha. Setelah di bungkus, Ayah tidak lupa beli pasir, makanan hamster, dan serbuk kayu. Setelah itu, kami segera pulang ke rumah dengan hati senang dan perasaan tidak sabar untuk membuka bungkusannya.  Aku segera meletakkan hamster di kandangnya, lalu kuberi ia makanan dan minuman.

Di siang hari kulihat gaya tidurnya sangat lucu. Berbaring dengan kaki di atas. Hamster tersebut aku beri nama Boni dan Belang. Mereka selalu ku beri makanan dan minuman agar tumuh sehat dan gemuk.

Cerita ini mengajarkan kita tentang pentingnya keinginan dan doa yang kuat, tanggung jawab dalam merawat hewan peliharaan, serta hubungan yang hangat dan harmonis antara orang tua dan anak. Kita juga diajarkan untuk tidak menyerah dalam mencapai tujuan dan selalu bersyukur serta berterima kasih atas apa yang kita miliki. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bahagia dalam hidup.

 

 

Tamat

 

 

BIODATA PENULIS:

Namaku Aqilah Maghfiroh Ramadhani, lahir di Pasuruan tanggal 26 Juli 2013. Cita-citaku ingin menjadi Fashion Designer, Hobiku membuat ketrampilan. Sekarang aku duduk di kelas 5D di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pasuruan.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait