u3-Kisah-Di-Malam-Api-Unggun
KISAH DI MALAM API UNGGUN

KISAH DI MALAM API UNGGUN

Oleh: Dzakira Ashabiya

 

Aku sudah menyiapkan segala keperluanku untuk berkemah di bumi perkemahan Durensewu. Mulai dari pakaian, alat ibadah, sampai alat mandi. Semuanya kukemas ke dalam sebuah tas rangselku yang baru. Aku senang sekali mengikuti kegiatan perkemahan, karena pramuka adalah hobiku.

Pada hari Kamis, tanggal tiga Oktober 2021, aku bersiap-siap untuk berangkat ke tempat perkemahan. Setelah itu, aku berpamitan kepada keluargaku terutama Ayah dan Ibu.

“Ayah, Ibu, aku berangkat kemah dulu ya”, ucapku kepada ayah dan ibuku. Kemudian segera beranjak meninggalkan rumah.

“Nak, Tunggu! uangmu tertinggal!”, teriak ibuku.

“Oh iya, mana Bu?”, tanyaku.

“Ini loh!”, sahut ibuku.

Aku pun kembali sambil berlari untuk mengambil uangku.

                “Terima kasih, Bu”, ucapku sambil mencium tangan ibuku.

Sesampainya di sekolah, aku dan teman-temanku berangkat menuju tempat perkemahan dengan naik angkot. Tak lama kemudian angkotnya datang. Kami segera masuk ke dalam angkot dengan tertib tanpa berebut. Angkotnya berjalan dengan perlahan, kita bercerita sambil melihat pemandangan di sepanjang jalan menuju tempat perkemahan. Pemandangannya sangat indah.

Di tengah perjalanan, angkot peserta kemah anak laki-laki  mogok.

“Hahaha, lihat angkot cowok mogok!”, kataku sambil tertawa.

“Haha lucu sekali”, kata Marda.

“Sha, bangun sudah sampai!”, teriak Marda sambil membangunkanku.

“Hah, sudah sampai?”, tanyaku.

“Ayo kita turun!”, kata Marda.

 

Kami pun turun dan bersama-sama mendirikan tenda. Setelah selesai mendirikan tenda, kami memasukkan barang-barang bawaan dan menatanya serapi mungkin. Kami senang sekali. Kami bercerita dan bersenda gurau di dalam tenda.

Tiba-tiba Bu Ning datang.

“Cepat ganti baju pramuka sepuluh menit!”, kata Bu Ning tegas.

“Iya, Bu”, jawab kami serempak.

Kami segera berganti baju, lalu keluar dari tenda untuk mengikuti upacara pembukaan.

“Udaranya panas sekali ya?”, tanyaku.

“Iya, panas banget”, jawab Marda.

Seusai upacara, kita kembali ke tenda masing-masing dan bersiap untuk makan. Tapi Putri tidak mau makan.  

                “Kenapa kamu nggak makan, Put?”, tanyaku.

“Aku nggak mau makan nanti kebelet BAB”, jawab Putri.

“Ih, makan Put, nanti perutmu sakit!”, seru Zahra.

“Nggak mau!”, teriak Putri.

“Hei sudah, Kenapa ada ribut ribut!”, teriak Bu Ning.

“Ini loh Bu, Putri nggak mau makan”, kata Zahra.

“Kamu harus makan, Put!”, kata Bu Ning.

“Tapi Bu, saya masih kenyang”, jawab Putri.

“Tidak ada tapi-tapian, kamu harus makan!”, kata Bu Ning tegas.

                Dengan malas-malasan, akhirnya Putri pun mau makan meskipun tidak ia habiskan. Selesai makan, kami melanjutkan mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan panitia perkemahan. Seusai kegiatan malam, kami tidur bersama di tenda.

                Tak terasa adzan subuh terdengar merdu membangunkan kami semua. Natha sudah bangun terlebih dulu, kemudian ia membangunkanku.

                “Sha, bangun! Sudah subuh!”, kata Natha sambil membangunkanku.

                “Ah, sudah subuh”, gumanku.

                “Iya, ayo bangun dan shalat, nanti ketinggalan loh”, kata Natha.

Selesai shalat subuh, kami mandi dan ganti baju olahraga. kemudian senam bersama di lapangan. Badanku terasa capek sekali. Meskipun capek, aku tetap senang dan semangat mengikuti kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Malam pun tiba.  Waktunya mengadakan acara api unggun. Malam itu, langit cerah penuh bintang bersinar terang di atas bumi perkemahan. Angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa sejuk. Kami duduk melingkar di sekitar api unggun yang menyala terang. Cahaya api berwarna jingga keemasan memantul di wajah-wajah ceria kami.

Salah satu kakak pembina kami maju di tengah lapangan “Siapa yang mau bercerita?”, tanya kakak tersebut.

Marda mengangkat tangan.

“Aku punya cerita petualangan!”, katanya bersemangat.

Kami pun duduk lebih dekat, penasaran.

“Beberapa tahun lalu”, Marda mulai bercerita.

“Ada sekelompok anak yang berkemah di tempat ini. Saat malam tiba, mereka mendengar suara aneh dari hutan. Auuu… auuu…, seperti suara serigala!”

“Apa yang terjadi selanjutnya?”, tanya Putri dengan ketakutan.

“Mereka memutuskan mencari tahu”, lanjut Marda.

“Dengan membawa senter, mereka berjalan menuju sumber suara itu. Tapi tiba-tiba, sesuatu bergerak di balik semak-semak!”.

“Jangan-jangan hantu!”, seru Natha sambil menutup wajahnya.

Marda tertawa.

“Bukan hantu, ternyata seekor kucing yang tersesat. Anak-anak itu membawanya ke perkemahan. dan sejak itu mereka menjadi sahabat si kucing.”

Semua anak tertawa lega. Kakak-kakak pembina bertepuk tangan sambil mengajak kami semua menyanyikan lagu “Api Unggun”.

Malam itu penuh tawa dan cerita. Api unggun terus menyala hangat menemani kami semua. Rasanya senang sekali bisa berkumpul dan berbagi cerita bersama teman-teman. Api unggun malam itu menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Perkemahan di akhiri dengan upacara penutupan.

“Hari ini adalah hari terakhir kita, kan?”, kata Marda dengan wajah sedih.

“Iya, ini hari terakhir kita di sini”, kataku.

“Setelah ini kita upacara penutupan”, sahut Marda.

“Tanggal lima Oktober 2021 perkemahan Santri Fun Camp 2 ditutup”, kata pembina upacara.

                Setelah acara penutupan selesai, kami berenang di kolam renang Durensewu.

                “Sha, airnya dingin sekali”, kata Marda.

                “Masa?”, tanyaku.

                “Iya, coba sini”, kata Marda.

                “Enggak ah, takut tenggelam”, kataku.

                Selesai berenang kami segera berkemas bersiap untuk pulang.

                Kegiatan perkemahan mengajarkan kita tentang kebersamaan, kerjasama, dan keberanian. Dengan saling membantu dan berbagi, kita bisa menciptakan kenangan indah dan mempererat persahabatan. Selain itu, kita juga belajar mencintai alam dan menjaga lingkungan.

Tamat

 

 

BIODATA PENULIS

Namaku Dzakira Ashabiya . Aku lahir di Nganjuk 12 Februari 2014 . Cita citaku ingin menjadi Penulis Komik. Hobiku menggambar. Sekarang aku duduk di kelas 5D di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pasuruan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait