u3-Jejak-Momo
JEJAK MOMO

JEJAK MOMO

Oleh: Dzakiyya Anisa Zahra

 

Hai, aku Zahra. Aku mempunyai kucing kesayangan, yaitu Momon. Pertama kali mempunyai kucing, waktu aku dan Kakak menjemput Mama pulang kerja, Saat itu, ada tiga kucing yang berwarna putih, hitam, dan abu-abu. Aku dan Kakak sepakat mengambil yang warna abu-abu karena imut seperti aku. Bulunya bersih dengan belang putih di punggungnya. Matanya bulat dan berwarna hijau seperti permata.

Setelah kakak mengambil kucing yang berwarna abu-abu. Kami segera membawa kucing itu ke rumah. Sebelum membawa pulang kucing itu, kami mampir ke toko makanan kucing terleih dulu untuk membelikan makanan. Setelah kucing itu makan dan minum, tiba-tiba kami menemukan ide untuk memberi nama kucing itu dengan nama “Мomo”. Setiap hari, Momo selalu menemani kami bermain di halaman rumah.

“Kita jaga baik-baik ya dik, kucingnya!”, kata Kakak.

“Iya Kak”, jawabku.

                “Kita jaga sampai besar ya!”, kata Kakak.

Setiap pagi, Momo suka mengeong di depan pintu kamarku. Itu tandanya dia minta sarapan. Aku membawanya ke dapur dan memberikannya susu hangat.  Dia menjilati susunya dengan lahap sampai habis tak tersisa. Setelah kenyang, dia melompat ke pangkuanku dengan manja.

Lima bulan kemudian, perut Momo mulai membesar. Ternyata Momo hamil. Aku dan kakakku senang sekali. Kakak segera menyiapkan tempat yang hangat untuk Momo.

Suatu malam setelah tiga bulan Momo hamil. Dia melahirkan empat ekor anak kucing yang mungil dan lucu sekali. Menjelang usia satu minggu, bulu anak kucing tersebut mulai tumbuh. Dan aku mulai menikmati merawat anak-anak kucing yang mungil itu, Setiap hari ku beri makanan basah, snack, dan vitamin. Kami gembira sekali melihat anak-anak kucing itu.

 

“Lihat, Kak! Anak-anak Momo lucu sekali”, bisikku pelan.

Kakakku tersenyum sambil berkata, “Iya, semoga mereka tumbuh sehat, ya”.

Akhirnya anak-anak Momo tumbuh besar dan kami beri nama Supri, Nana, Caca, dan Ica. Namun sayang, satu minggu kemudian, dua anaknya Momo mati.

“Kak, Ica dan Nana tidak bergerak!”, teriakku.

“Dik, Ica dan Nana mati!”, seru Kakak.

“Apa kak?” sahutku kaget sekali.

“Kak, kenapa Ica dan Nana mati?”, tanyaku sambil meneteskan air mata.

Kakakku mengelus pundakku dengan lembut.

“Mungkin dia terlalu lemah. Tapi kita harus tetap merawat Momo dan anaknya yang masih hidup”, jawabnya dengan suara pelan.

Aku mengangguk pelan, meski hatiku terasa sedih. Lalu aku memeluk Momo dan anaknya yang masih hidup..

“Jangan sedih, Momo. Kami akan selalu menjagamu”, bisikku.

“Mari kita kubur Ica dan Nana bersama-sama”, ajak Kakak.

“Iya Kak”, jawabku.

                Sepulang sekolah aku tidak menemukan Momo dan anak-anaknya di rumah. Biasanya momo selalu menunggu di teras. Aku mulai panik dan memanggilnya.

“Momo, Supri, Caca, di mana kalian?”

                Kakakku ikut mencari di sudut-sudut rumah. Kami mencari di bawah meja, di dalam lemari, bahkan di halaman belakang. Namun tidak juga kami temukan Momo dan anak-anaknya.

                “Aku takut, Kak. Ke mana Momo pergi?” tanyaku dengan suara gemetar.

                Kakakku mencoba menenangkanku.

“Jangan khawatir, mungkin dia sedang bermain di luar. Kita cari lagi di sekitar rumah ya”, katanya sambil mengelus pundakku.

                Kami menyusuri gang kecil di dekat rumah sambil memanggil-manggil nama Momo. Tapi Momo dan anaknya tidak kami temukan juga. Aku sedih sekali hingga sulit tidur di malam harinya.

                Beberapa hari kemudian, Momo dan anaknya ketemu. Dan yang menemukan adalah kakakku saat ia pulang bekerja. Kakak melihat Momo berantem dengan kucing lain. Kakak segera mengambil dan membawanya pulang. Setelah sampai di rumah, Momo langsung menyusui anak-anaknya.

                “Akhirnya Momo ketemu ya, dik”, kata Kakak.

                “Iya Kak, kita masih beruntung”, jawabku.

“Kita harus menjaga Momo dan anaknya lebih baik lagi, supaya tidak hilang lagi”, kata Kakak.

Aku mengangguk.

“Iya Kak, aku berjanji akan menjaga Momo dan anaknya lebih baik lagi”.

                Sejak saat itu, aku dan kakakku semakin sayang pada Momo dan anak-anaknya. Kami belajar bahwa merawat hewan bukan hanya tentang bermain bersama. Tetapi juga menerima saat sedih dengan hati yang kuat. Dan aku juga belajar untuk tidak menyayangi sesuatu terlalu berlebihan. Agar nanti ketika kehilangan lagi tidak terlalu sedih yang bisa membuatku stres.

 

Tamat

 

BIODATA PENULIS

Namaku Dakiyya Anisa Zahra. Lahir di Pasuruan tanggal 27 November 2013. Cita-citaku ingin menjadi guru agama. Hobiku renang dan menggambar. Sekarang aku duduk di kelas 5D di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Pasuruan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait