Desember 2024. Udara Kabupaten Pasuruan terasa hangat, namun di dalam aula megah MTsN 1 Pasuruan, ketegangan dan semangat beradu. Hari itu adalah puncak Lomba Al-Banjari Tingkat Kabupaten, sebuah ajang bergengsi yang mempertemukan grup-grup shalawat terbaik dari seluruh penjuru daerah.
Di sudut panggung, ada sekelompok putra – putri anak kelas 4 dan 5 yang memancarkan aura fokus yang tenang: Grup Az Zamzami dari MIN 1 Pasuruan.
Mereka bukan grup dengan kostum paling mewah, tetapi instrumen mereka – sebuah bass yang usang namun terawat, dan rebana yang mengkilap – seakan menyimpan janji. Selama tiga bulan, di bawah bimbingan guru mereka, Ustadz Hajir, anak-anak ini telah berlatih tanpa lelah, mengulang qosidah yang sulit dan menyeimbangkan dinamika vokal.
Ketika tiba giliran Az Zamzami, suasana hening. Pemimpin vokal, seorang siswi kelas lima bernama Putri Fatimatuz Zahra bersamaseluruh tim, melangkah maju. Matanya terpejam sejenak, mengambil napas, lalu memulai bait utama yang berjudul: “GHUROBA”
Suara bacaan Suluk oleh Putri dibawakan dengan suara yang sangat jernih, menggetarkan, dan penuh penghayatan, seolah ia benar-benar sedang memanggil sosok yang diagungkan. Di belakangnya, empat vokalis lain menyambut dengan harmoni yang indah. Yang membuat penampilan mereka berbeda adalah ritme yang dimainkan oleh tim rebana. Tim Rebana menghasilkan pola ritme yang rumit dan energik, tidak hanya mengiringi, tetapi juga bercerita.
Mereka menyajikan perpaduan tradisi dan inovasi. Di satu sisi, lagu-lagu shalawat klasik dibawakan dengan penuh tuma’ninah (ketenangan); di sisi lain, transisi ritme yang cepat membuat para juri tak bisa menahan anggukan kepala. Mereka tampil bukan untuk berkompetisi, tetapi untuk meluapkan cinta.
